IdToba.com

Log In

Home > Lifestyle > Makna Mandok Hata Dalam Tradisi Adat Batak Setiap Tahun Baru

Register Login Tulis Artikel

Makna Mandok Hata Dalam Tradisi Adat Batak Setiap Tahun Baru

Mandok Hata - IdToba

IdToba.com – Tidak terasa Hari Natal sudah kita jalani dengan Penuh Hikmat, Penuh Bahagia dan Penuh Sukacita. Namun bagi orang Batak pasti saat ini momen dedekan untuk merangkai kata dalam menghadapi tradisi Batak setiap Tahunnya dalam pergantian tahun yaitu : “Tahun Baru” pastinya akan hadir juga “Mandok Hata”.

Tapi sebelumnya apakah akka dongan tahu apa itu sebenarnya Mandok Hata?, Simak dibawah ini :

Setiap pukul 12 malam atau pukul 00.00, lonceng gereja di setiap tempat akan berbunyi selama satu jam penuh, mungkin ini menjadi pengganti kembang api dan keceriaan yang ada di ibukota.

Dalam tradisi adat Batak, ada satu acara yang sering luput dari perhatian kita, yakni Mandok Hata. Walaupun, dalam praktek hidup sehari-hari kita sering melihat bahkan mempraktekkan mandok hata. Yang menjadi persoalannya adalah bahwa “Mandok Hata” hanya dilihat sebagai peristiwa biasa saja yang disamakan dengan acara pemberian kata sambutan biasanya. Namun sebaliknya ada sebagian orang beranggapan bahwa mandok hata itu sangatlah sulit seperti Admin 😀 .

Secara harafiah, Mandok Hata bisa diartikan sebagai mengucapkan kata atau sabda yang diungkapan dengan kesungguhan hati. Acara ini merupakan bagian dari upacara adat batak lainnya. Misalnya : dalam acara perkawinan, upacara orang meninggal, pesta tugu dan upacara-upacara lain yang selalu dibarengi dengan Mandok Hata.

Perlu kita sadari bahwa mandok hata bukanlah sekedar mengatakan atau berkata-kata saja.
Mandok Hata adalah bagian dari seni dan budaya adat Batak. Acara ini begitu khas sehingga tidak bisa disamakan begitu saja dengan acara kata sambutan lainnya dan dalam peristiwa kenegaraan sekalipun. Mungkin pendapat Admin ini terlalu ektrims tetapi perhatikanlah alasan berikut ini :

  • Dalam upacara Kenegaraan, umumnya orang menyampaikan kata sambutan dengan membacakan teks tertulis tanpa disertai dengan bahasa sastra, tetapi,
  • Dalam acara Mandok Hata, selalu disertai dengan bahasa sastra (umpama/umpasa) dan itu diungkapkan secara lisan dan penuh perasaan (BaPer 😀 ).
Tradisi Mandok Hata - IdToba
Tradisi Mandok Hata – IdToba

Mandok Hata dan “seni mandok hata” mendapat kedudukan dan nilai yang tinggi dalam tradisi adat Batak. Tak ada upacara yang marsintuhu (sungguh-sungguh) yang tidak disertai dengan Mandok Hata. Kalau ada seseorang mandok hata itu berarti orang lain tak boleh ribut. jika ada seseorang yang diundang makan berarti Dia harus mandok hata.

Maka dalam mandok hata itu terkandung dan mempunyai suatu berkat dan permohonan kepada Allah; terkandunglah nilai-nilai kesopanan, kebahagiaan dan pengharapan akan rahmat Allah. Dengan demikian pihak tuan rumah (suhut) harus menyambut (mangampu) segala kata, berkat dan rahmat tersebut.

Setiap orang tentu mampu Mandok Hata. Apalagi orang Batak Toba adalah “seniman mandok hata” dari lahirnya. Karena orang Batak sering diidentikkan dengan orang yang pintar bicara, jadi tidak heran kalau orang Batak sangat paten jika menjadi seorang Pengacara.

Tetapi sekarang ini banyak orang mengatakan bahwa mandok hata itu sulit. Mandok hata sering menjadi sulit lebih karena keengganan berdiri dan berbicara di depan banyak umum / dalam keluarga. Untuk alasan yang satu ini memang tak ada resep yang mujarab, selain berani berlatih dan mencoba.

Berikut ini akan dipaparkan secara sederhana cara mandok hata :

Langkah Pertama, ialah marsantabi (permisi) kepada situan natorop (orang banyak) dan mengucapkan terima kasih. Contohnya: Santabi ma di loloan bolon na pinarsangapan/ Jala mauliate ma di tinggki na pinarade laho mandok hata saotik sian hami.

Langkah Kedua, Setelah marsantabi dan berterima kasih, menyusul-lah langkah kedua yaitu inti untuk ucapan/ungkapan kata. Demi kelancaran dalam menyampaikan inti ucapan/ungkapan kata maka sebaiknya, apa yang akan disampaikan itu sudah dipersiapkan terlebih dahulu dengan menyusunnya dalam hati.

Langkah Ketiga, Kemudian yang terakhir ialah Penutup. Penutup ini biasanya diisi dengan umpama/umpasa, contohnya: Eme sitamba tua/ Parlinggoman ni siboro/ Debatanta na martua/ Sai horas ma hita diparorot, dan lagi Sahat-sahat ni solu/ Sahat ma tu bontean/ Leleng hita mangolu/ Sai sahat ma tu panggabean. “I MA TUTU”.

Di saat keadaan seperti ini, tidak sedikit yang bisa terharu dan juga menitikkkan air mata. Tidak ada yang jelas tahu darimana pertama kali orang-orang Batak mengadakan acara pergantian tahun seperti itu. Tetapi yang jelas Admin bangga dengan keadaan seperti itu. Berkumpul dengan keluarga besar sangatlah menyenangkan.

Happy New Year for All … Wish you all the best in the new year…,

Gimana akka dongan?, apa kalian sudah merangkai kata-kata dalam acara “Mandok Hata” nantinya???

Admin
Pernando Harianja
Pemilik dan Pengelola IdToba.com - Berusaha memperkenalkan dunia Batak ke mancanegara melalui dunia digital yang modern saat ini, agar budaya batak lebih diakui dan disertakan keindahan wisata tanah Batak.
https://idtoba.com