IdToba.com

Log In

Home > Humor Batak > Humor Batak Terlucu, Rugi Gak Baca

Register Login Tulis Artikel

Humor Batak Terlucu, Rugi Gak Baca

humor lucu - idtoba

IdToba.com – Ada seorang pemuda Batak, namanya Ultop Partahi. Dia tergolong orang pintar, sehingga berhasil kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Kisah ini terjadi tahun 70-an.

Tentu saja Ultop Partahi harus indekos di Jakarta. Untungnya, dia mendapat teman satu kos anak orang kaya, putra seorang Camat. Dan untungnya lagi, temannya itu sangat baik hati, sehingga Ultop bisa menikmati fasilitas temannya. Salah satu fasilitas yang bisa dinikmati Ultop adalah mesin tik. Dia akhirnya mahir mengetik 10 jari dengan belajar sendiri.

Pada zaman itu, tentu belum ada handphone seperti sekarang. Para perantau masih menggunakan surat jika ingin memberi kabar kepada sanak saudara di kampung. Nah, suatu kali Ultop ingin memberi kabar kepada ayah dan ibunya di bonapasogit.

humor - idtoba
humor – idtoba

Biasanya dia mengirim surat pakai tulis tangan. Tapi kali ini, dia ingin menulis surat kepada orangtuanya dengan mesin tik. Sekaligus dia ingin menunjukkan bahwa dia sudah jago mengetik. Maka Ultop meminjam mesin tik itu kepada temannya. Tapi sayang, mesin tik itu rusak.

“Apanya yang rusak?” tanyanya kepada sang teman.

“Itu, hurup ‘P’ macet, tak bisa,” sahut temannya.

Tapi bagi Ultop, itu tak masalah. Dengan kepintarannya, akalnya langsung jalan. Huruf ‘P’ bisa diganti dengan huruf ‘F’. Maka mulailah ia menulis surat, demikian bunyinya:

  • Mandafothon
  • Nafinarsangafan
  • Bafa/omak
  • di huta

Horas bafa/oma, boha do kabarmu fuang di bona fasogit. Ia au di fangarattoan on hifas-hifas do nuang, huhut farkuliahanku lancar do sude. Araf rohakku, bafa/oma pe hifas-hifas ma nian rufani di bagasan fangaramotion ni amanta Debata fardenggan basa i.

Bafa/oma, lancar do nian ulaon muna kan? Anggiat ma sai ramos akka suan-suanan, asa lancar muse biaya na lao kirimonmu tu au tiaf bulan. Fos rohamu, hatof fe huusahahon tammat, asa fittor boi mengalului farkarejoan. Asa boi ta fadenggan jabutta na hira sofo-sofo i, afala gedong nian. Buffet na di kamar i fe nga boi nian digatti i. Fokokna, tamianghon hamu ma, asa mantaf farkuliahanku.

Songoni ma jo ate bafa/oma, fos ma rohamu, sai saut ma sude akka na sinakkaf ni rohatta. Horas ma.

Sian au anakkonmu

Ultof Fartahi

Ketika surat itu sampai di kampung, ayahnya sangat senang. Dibacakannya surat itu kuat-kuat agar sekalian bisa didengar istrinya. Setelah membaca beberapa baris, ayahnya bingung. “Apa maksudnya nulis surat begini?” katanya.

“Teruskanlah dulu baca,” kata istrinya.

Akhirnya, setelah selesai membaca, ayahnya marah dan kecewa, lalu berkata: “Dangol nai fuang, di fakuliahon tu Jakarta, manurat fe gabe dang diboto. Goarna fe nga diganti jadi Ultof Fartahi, hafe finahan na balga do diseat mambaen goar i. Eh tahe, bagianki. Mauf ma i.”

Mendengar itu, istrinya berkata: “Ho fe nga dohot fesong, ditiru-tiru ho. Mauf ma hamu.” (****)

Sumber : Sopo Batak

Admin
Pernando Harianja
Pemilik dan Pengelola IdToba.com - Berusaha memperkenalkan dunia Batak ke mancanegara melalui dunia digital yang modern saat ini, agar budaya batak lebih diakui dan disertakan keindahan wisata tanah Batak.
https://idtoba.com